The Start

Pontianak, 10 Agustus 2026.

Ada banyak keresahan yang belakangan ini memenuhi kepala saya. Sebagian sulit untuk diungkapkan secara langsung, bahkan kepada orang lain. Maka hari ini saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama saya tinggalkan: menulisnya.

Dengan tangan.

Sudah berapa lama sejak terakhir kali saya benar-benar menulis diary atau jurnal menggunakan tulisan tangan? Saya bahkan sempat merasa canggung ketika pertama kali menuliskan beberapa kalimat di atas kertas. Tangan terasa kaku, seolah-olah ia sudah terlalu lama hanya digunakan untuk mengetik.

Tulisan tangan itu kemudian saya pindahkan menjadi teks dengan bantuan kecerdasan buatan. Agak ironis, mungkin. Saya kembali menulis dengan tangan untuk mencoba menuangkan isi kepala secara lebih personal, lalu sebuah mesin membantu saya mengubahnya kembali menjadi teks digital yang dapat dibaca.

Mungkin memang demikian cara saya memulai kembali.

Beberapa hari terakhir ada cukup banyak hal yang berputar di kepala saya. Ada yang sifatnya filosofis, ada pula yang sangat teknis dan praktis.

Salah satunya adalah rencana studi doktoral saya yang sampai saat ini masih belum benar-benar jelas. Saya masih ragu untuk menghubungi pembimbing S2 saya dan meminta persetujuan sekaligus rekomendasi mengenai calon promotor. Bahkan pertanyaan yang lebih mendasar pun belum benar-benar selesai di kepala saya: apakah pembimbing S2 saya kelak akan menjadi promotor yang tepat, atau sebaiknya saya mencari orang lain?

Di sisi lain, masih ada pekerjaan yang tertunda.

Saya masih memiliki “utang” publikasi dari penelitian tahun 2024 dan 2025. Salah satu artikelnya bahkan sebenarnya sudah setengah jalan. Data ada. Pekerjaan awal sudah dilakukan. Kerangkanya sudah terbentuk. Tetapi entah mengapa, menyelesaikannya terasa begitu berat.

Kalau harus jujur, salah satu kata yang muncul di kepala saya adalah: malas.

Ada begitu banyak hal lain yang terasa lebih menyenangkan untuk dikerjakan. Ada pekerjaan yang hasilnya bisa langsung terlihat. Ada kegiatan yang memberikan interaksi dengan orang lain. Ada hal-hal kecil yang memberikan kepuasan secara instan. Sementara menulis artikel ilmiah membutuhkan waktu, konsentrasi, dan kesabaran—dengan hasil yang belum tentu terasa secara langsung, baik secara akademik maupun ekonomi.

Dan mungkin di situlah masalahnya.

Saya kemudian mulai mencari pembenaran.

Sistem insentif penelitian dan publikasi juga berubah. Tidak semua publikasi memberikan konsekuensi yang sama dalam sistem penghargaan yang berlaku. Ada jurnal dengan posisi tertentu yang lebih diperhitungkan dibandingkan yang lain. Mau tidak mau, hal tersebut memengaruhi cara saya memandang pekerjaan menulis.

Saya merasa targetnya semakin jauh.

Dan ketika sesuatu terasa semakin jauh, manusia ternyata cukup pandai menemukan alasan untuk tidak mulai berlari mengejarnya.

Saya tahu bahwa argumen tersebut tidak sepenuhnya adil. Publikasi merupakan bagian dari tugas seorang dosen. Meneliti dan menyebarluaskan hasil penelitian bukanlah pekerjaan tambahan yang boleh dilakukan hanya ketika saya sedang merasa termotivasi.

Saya tahu itu.

Namun mengetahui sesuatu bukan berarti selalu mampu melakukannya.

Yang agak ironis, semua pikiran ini justru saya tuliskan ketika saya sedang berada di depan laptop dan mengikuti sosialisasi pengisian BKD.

Beban Kerja Dosen.

Namanya saja sudah cukup menjelaskan bagaimana saya kadang memandangnya. Saya harus mencatat, mengumpulkan, dan membuktikan kembali apa saja yang telah saya kerjakan selama satu semester. Ada administrasi yang harus dipenuhi, angka yang harus dihitung, dan standar yang harus dicapai.

Saya tahu semua itu diperlukan.

Tetapi pada malam seperti ini, saya juga bertanya-tanya: mengapa sebagian pekerjaan akademik yang sebenarnya saya yakini penting justru terasa begitu berat untuk saya kerjakan?

Apakah karena saya memang malas?

Mungkin.

Tetapi mungkin juga persoalannya lebih rumit daripada itu.

Mungkin ada pekerjaan yang kehilangan maknanya ketika ia terlalu lama dipandang sebagai kewajiban, angka, target, dan administrasi. Mungkin ada pula ketakutan menghadapi standar yang terasa semakin tinggi. Atau mungkin saya hanya terlalu pandai merasionalisasi ketidaknyamanan saya sendiri.

Saya belum tahu jawabannya.

Dan mungkin tulisan ini memang belum dimaksudkan untuk memberikan jawaban.

Untuk saat ini, saya hanya ingin mengakui bahwa semua keresahan itu ada.

Barangkali menuliskannya adalah cara pertama untuk mulai memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Dan mungkin, setelah cukup lama meninggalkan jurnal dan diary, inilah cara saya memulai kembali.

Komentar

Postingan Populer