Universitas: Tempat Belajar Bertanya

Beberapa waktu lalu saya menjadi pembimbing sekaligus penguji skripsi salah satu mahasiswa. Di tengah sidang, tiba-tiba muncul sebuah kesadaran yang membuat saya sedikit tidak nyaman.

Selama ini saya sering membimbing mahasiswa menyelesaikan skripsi: mengambil data, mengolah data, melakukan interpretasi, lalu menyusun laporan. Semua tahapan itu berjalan sebagaimana mestinya. Namun saat itu saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sudah benar-benar membimbing mereka belajar berpikir ilmiah?

Saya bahkan mengakui hal itu kepada mahasiswa bimbingan saya. Seharusnya, sebagai pembimbing, saya tidak hanya mengarahkan langkah-langkah penelitian, tetapi juga mengajak mereka menjalani proses berpikir yang melatarbelakangi setiap keputusan dalam penelitian tersebut. Apa permasalahan yang ingin ditinjau? Mengapa metode ini dipilih? Apa asumsi yang digunakan? Seberapa yakin kita terhadap interpretasi yang dibuat? Adakah kemungkinan penjelasan lain? dsb. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru sering terlupakan ketika membimbing skripsi berubah menjadi rutinitas.

Pada waktu yang hampir bersamaan, saya kembali membuka Madilog karya Tan Malaka. Buku itu sudah dua tahun berada di rak, tetapi lebih sering menjadi penghias daripada bacaan. Mungkin karena sedang membaca buku itulah saya menjadi begitu bersemangat memikirkan pentingnya berpikir ilmiah.

Namun beberapa hari kemudian, ketika semangat itu mulai mereda, muncul pertanyaan baru yang justru lebih mendasar. Apakah berpikir ilmiah memang tujuan utama pendidikan tinggi?

Saya menyadari bahwa mungkin saya memulai dari pertanyaan yang salah. Sebelum bertanya bagaimana cara mengajar berpikir ilmiah, saya seharusnya bertanya terlebih dahulu: universitas sebenarnya ingin membentuk manusia seperti apa? Semakin saya memikirkannya, saya semakin menyukai satu gagasan sederhana.

Universitas adalah tempat seseorang belajar bertanya.

Bukan sekadar tempat menerima jawaban, apalagi menghafal informasi sebanyak mungkin. Universitas seharusnya menjadi academic playground—ruang yang aman untuk mencoba ide, menguji argumen, menyadari kesalahan, bahkan mengubah pendapat ketika berhadapan dengan bukti yang lebih baik. Di ruang seperti itulah mahasiswa belajar bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang mudah. Bahkan kadang dosennya sendiri belum mengetahui jawabannya.

Sayangnya, universitas juga hidup di dunia nyata. Program studi harus mempertahankan akreditasi dan kelulusan tepat waktu menjadi salah satu indikator penting. Sebagai dosen, saya memahami mengapa indikator itu diperlukan. Program studi kami sendiri mengalami peningkatan minat calon mahasiswa setelah memperoleh akreditasi Unggul. Artinya, kualitas yang diakui melalui akreditasi memang membawa dampak nyata. Namun saya juga khawatir ketika ukuran mulai berubah menjadi tujuan. Kalau yang dikejar hanyalah agar mahasiswa lulus dalam empat tahun, jangan-jangan proses belajar bertanya perlahan tergeser oleh proses menyelesaikan administrasi. 

Keresahan itu kemudian merembet ke ruang kelas. Saya mulai mempertanyakan cara saya mengajar. Selama ini saya sering berpikir bahwa bekal terbaik bagi mahasiswa adalah memberikan wawasan seluas mungkin. Saya ingin mereka memahami geofisika sekaligus kaitannya dengan oseanografi, hidrologi, sedimentologi, dan bidang-bidang lain. Kadang saya merasa perlu mengajarkan pengetahuan dasar yang menurut saya penting, meskipun belum tentu tercakup di mata kuliah lain.

Namun sekarang saya justru bertanya: jangan-jangan saya sedang membuat mahasiswa over-informed. Kalau terlalu banyak konsep diperkenalkan tanpa sempat dipahami secara mendalam, apakah mereka benar-benar belajar? Ataukah mereka hanya mengenal banyak istilah, lalu melupakan hampir semuanya beberapa tahun setelah lulus? Mungkin pertanyaannya memang bukan lagi "apa saja yang harus saya ajarkan?" Melainkan bekal apa yang benar-benar perlu dimiliki seorang lulusan geofisika, ke mana pun hidup membawanya setelah meninggalkan universitas?

Tidak semua lulusan akan menjadi peneliti. Ada yang menjadi konsultan, ASN, guru, dosen, pengusaha, bahkan berkarier di bidang yang sama sekali berbeda. Mereka mungkin akan lupa banyak persamaan, rumus, maupun detail teknis yang dulu dipelajari. Tetapi saya berharap mereka tetap membawa sesuatu yang lebih mendasar: kebiasaan bertanya sebelum menyimpulkan, kemampuan membedakan fakta dan interpretasi, keberanian mengakui keterbatasan pengetahuan, dan kesiapan untuk terus belajar. 

Kalau memang itu tujuan pendidikan tinggi, maka mungkin tugas saya sebagai dosen bukan mengisi kepala mahasiswa dengan sebanyak mungkin informasi. Melainkan membantu mereka membangun cara berpikir yang akan tetap berguna, bahkan ketika sebagian besar materi kuliah sudah lama terlupakan.

Saya belum memiliki jawaban yang utuh atas semua pertanyaan ini. Namun mungkin memang itulah hakikat universitas. Ia bukan tempat yang memberikan semua jawaban, melainkan tempat kita terus belajar mengajukan pertanyaan yang lebih baik.

Komentar

Postingan Populer