First Impression

Pontianak, 14 Agustus 2026.
Pada hari ini saya telah menyelesaikan seluruh pertemuan pertama dari mata kuliah yang saya ampu semester ini. Seperti biasanya, pertemuan pertama memberikan kesan awal tentang bagaimana satu semester ke depan mungkin akan berjalan. Tetapi kali ini saya justru mendapatkan kesan yang cukup beragam. Ada kelas yang terasa optimis dan menyenangkan. Ada kelas yang terasa seperti miss. Ada juga kelas yang terasa biasa saja, seperti rutinitas yang berulang.
Saya jadi penasaran, kenapa bisa begitu?
Pada kelas yang memberikan kesan positif, saya merasa berhasil menarik perhatian dan rasa ingin tahu mahasiswa. Ada semacam timbal balik kepedulian antara saya sebagai pengampu mata kuliah dan mahasiswa sebagai peserta kelas. Mungkin karena saya menunjukkan kepedulian dan merasa bahwa memang penting untuk peduli terhadap mahasiswa. Entah bagaimana, hal itu kemudian seperti mendapat respons balik dari mereka. Bisa juga karena sebagian dari mereka baru pertama kali bertemu dengan saya di mata kuliah tersebut. Ada rasa penasaran yang masih baru, baik dari sisi mahasiswa maupun dari sisi saya sebagai pengajar.
Sebaliknya, beberapa mata kuliah terasa seperti rutinitas. Kebanyakan merupakan mata kuliah pilihan yang pesertanya sudah beberapa kali mengikuti mata kuliah yang saya ampu. Tidak ada masalah khusus sebenarnya. Kelas berjalan, materi tersampaikan, mahasiswa mengikuti. Hanya saja, tidak ada sesuatu yang terasa terlalu hidup.
Lalu ada satu kelas yang terasa miss. Menariknya, mata kuliah tersebut adalah mata kuliah wajib dan diambil oleh angkatan yang sama dengan satu kelas lain yang justru memberikan kesan positif. Mata kuliahnya sama. Angkatannya sama. Tetapi vibe-nya berbeda. Sepertinya ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Mari kita bedah.
Mata kuliah yang saya maksud adalah Seismologi, yang semester ini terbagi menjadi kelas A dan B. Pembagian kelas sebenarnya cukup sederhana, hanya berdasarkan nomor mahasiswa. Jadi, secara umum tidak ada alasan khusus mengapa satu kelas seharusnya terasa berbeda dari kelas lainnya. Namun ada satu perbedaan yang cukup jelas: waktu dan ruang kuliahnya.
Kelas B dimulai pukul 15.30 dan dilaksanakan di sebuah ruangan lantai dua yang AC-nya tidak terlalu maksimal. Kalau cuaca seharian cerah, menjelang siang hingga sore ruangan ini bisa terasa cukup gerah. Sementara itu, kelas A dimulai pukul 13.00 dan dilaksanakan di ruangan lain di lantai dua sebuah gedung tiga lantai. Ruangan ini tidak menggunakan AC, hanya mengandalkan kipas angin dan jendela.
Namun, entah kenapa ruangan kelas A memberikan kesan yang jauh lebih terang. Dindingnya dicat putih cerah. Dari jendela terlihat pohon perca yang ditanam di area parkir kendaraan. Cahaya matahari siang masuk melalui jendela dan membuat ruangan terasa terang, tetapi tetap lembut.
Ruangan kelas B berbeda. Dindingnya berwarna kuning dengan beberapa panel kayu. Pintu masuk dan salah satu sisi jendelanya menghadap ke arah matahari terbenam. Ketika kuliah berlangsung sampai sore, cahaya matahari yang masuk membuat suasana ruangan berubah menjadi kemerahan. Secara visual sebenarnya menarik. Tetapi ketika digabungkan dengan kondisi ruangan yang gerah dan waktu kuliah yang sudah cukup sore, efeknya mungkin tidak terlalu ideal untuk proses belajar.
Kesan yang saya dapatkan ketika mengajar kelas B adalah mahasiswa terlihat capek dan gerah. Ruangan terasa semakin gelap menjelang akhir kuliah. Dan saya sendiri juga merasa terlalu lelah untuk banyak berinteraksi dengan mereka. Mungkin masalahnya bukan hanya pada mahasiswa. Saya juga sudah kehabisan energi setelah menjalani aktivitas seharian.
Di kelas A, kondisinya terasa berbeda. Suasananya lebih cerah. Cahaya matahari siang yang relatif lebih terang dibandingkan cahaya sore, ditambah warna dinding ruangan, memberikan kesan terang tetapi tidak menyilaukan. Mahasiswa terlihat lebih antusias dan lebih ingin tahu. Saya sendiri juga masih memiliki lebih banyak energi untuk mengajar dan berinteraksi. Di sini saya mulai berpikir bahwa kondisi pengajar ternyata mungkin memiliki peran yang cukup besar.
Sering kali ketika kelas terasa pasif, kita mungkin langsung berpikir bahwa mahasiswanya tidak tertarik. Tetapi mungkin ada faktor lain yang ikut bermain. Kondisi ruangan, waktu kuliah, temperatur, cahaya, kondisi fisik mahasiswa, bahkan energi pengajarnya sendiri mungkin saling berinteraksi. Tentu saja ini baru kesan awal. Saya tidak tahu apakah pengamatan ini akan bertahan sampai akhir semester. Dan ini menarik untuk diamati.
Semester ini saya juga merencanakan proses pembelajaran yang lebih banyak melibatkan asisten dan praktisi. Saya berharap cara ini bisa membantu mahasiswa memahami materi dengan lebih baik. Ada beberapa konsep dalam mata kuliah yang memang cukup abstrak. Mungkin konsep-konsep tersebut akan lebih mudah dipahami ketika mahasiswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga melihat bagaimana konsep tersebut digunakan dalam praktik.
Di sisi lain, saya juga merasa bahwa manajemen kelas saya sendiri masih perlu diperbaiki. Kelas yang hari ini terasa optimis dan menyenangkan jangan sampai beberapa minggu kemudian berubah menjadi kelas yang membosankan. Kelas yang sekarang terasa seperti rutinitas juga jangan dibiarkan begitu saja. Saya ingin mencoba mencari cara agar kelas tersebut tetap memiliki energi dan rasa ingin tahu.
Dan, ya, sepertinya memang beginilah menariknya menjadi pengajar. Kita tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mencoba memahami apa yang terjadi di dalam kelas. Kadang-kadang kita berhasil membuat kelas hidup. Kadang-kadang tidak. Dan kadang kita sendiri bahkan tidak tahu apa yang membuat sebuah kelas terasa berbeda dari kelas lainnya.
Untuk saat ini, saya baru memiliki kesan awal dan beberapa dugaan. Biarlah catatan ini menjadi titik awal. Nanti, mungkin beberapa bulan lagi, saya akan kembali ke halaman ini dan melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi sepanjang semester. Apakah dugaan saya benar? Apakah kelas-kelas tersebut tetap memiliki vibe yang sama? Apakah strategi pembelajaran yang saya coba berhasil? Atau justru saya menemukan sesuatu yang sama sekali berbeda? Kita lihat saja nanti.
For now, let this entry become a starting point.


Komentar
Posting Komentar