A Strange and Eventful Week

Pontianak, 7 September 2026.

Hari ini, Jumat, tepat satu minggu sejak saya menulis entri sebelumnya di buku ini. Menulis perlahan mulai terasa seperti satu ritual mingguan yang harus saya kerjakan. Dan hari Senin—hari di mana saya biasanya tidak memiliki jadwal mengajar—kini menjadi hari menulis bagi saya. Sudah hampir satu bulan ini saya menekuninya, meski masih tidak tahu apa manfaat pastinya. Saya pikir minimal ini bisa menjadi arsip pribadi.

Minggu kemarin, perkuliahan di kampus secara resmi dihimbau untuk dilaksanakan secara daring karena dampak karhutla yang makin parah melanda Kota Pontianak dan wilayah Kalimantan Barat secara umum. Kepastian himbauan dan landasan hukumnya berdasar pada Surat Edaran Rektor Universitas Tanjungpura per 27 Agustus 2026. Dan hal yang menarik dari Surat Edaran ini adalah: ada nama Lab Geofisika di situ.

Surat tersebut merujuk stasiun pemantauan polutan, IQAir milik Lab Geofisika yang memang telah terpasang di beberapa titik—yang awalnya bertujuan untuk memantau kualitas udara sekaligus sebagai alat publisitas prodi. Melihat data dari lab kami dijadikan rujukan, sepertinya tujuan tersebut telah tercapai. Bagi saya pribadi, ini tentu menjadi momen yang cukup berkesan. Setidaknya menunjukkan bahwa keberadaan lab kami bisa memberi manfaat nyata bagi publik, meskipun peran yang kami ambil ini masih dalam skala yang cukup sederhana.

Minggu kemarin sepertinya hanya akan berjalan seperti biasa—hanya dalam kondisi udara yang sangat tidak biasa—hingga sebuah kabar saya peroleh dari percakapan grup WhatsApp.

Saat itu hari Selasa pukul setengah sembilan malam. Kepala Laboratorium Geofisika mengabarkan bahwa beliau baru saja ditelepon oleh pihak dari salah satu perusahaan smelter bauksit Kalimantan Barat, yang meminta kami melakukan pengambilan data geolistrik untuk keperluan pembuatan sumur air tanah. 

Sebelumnya, beberapa minggu lalu, kami memang sedang bernegosiasi dengan perusahaan tersebut terkait pekerjaan sumur air tanah untuk mendukung program CSR perusahaaan. Lebih khusus, kami diminta untuk melaksanakan pekerjaan terkait penyediaan data geofisika sebagai landasan teknis pemboran. Proses negosisasi kerjasama tersebut belum final, dan sekarang kami malah diminta segera turun ke lapangan saat itu juga.

Kepala laboratorium menyampaikan bahwa permintaan mendadak ini disebabkan oleh kebutuhan mendesak perusahaan untuk membuat sumur bor dalam rangka penanggulangan karhutla. Kebakaran lahan dilaporkan telah mendekati wilayah kerja perusahaan dan dikhawatirkan berdampak pada aset-aset di sana. Berbagai pihak bahkan telah didatangkan untuk menangani api. Situasinya sepertinya memang sedang sangat mendesak.

Setelah berdiskusi di grup, kami pun sepakat memenuhi permintaan dari perusahaan. Saya segera menghubungi beberapa mahasiswa untuk membantu kegiatan lapangan, sementara dosen-dosen lain mempersiapkan peralatan. Gerak cepat kami lakukan agar Rabu pagi, 2 September, kami bisa langsung berangkat.

Saya memang seorang dosen yang cenderung menyukai kegiatan luar kampus. Saya senang kegiatan yang langsung terlihat hasil dan benefitnya. Dan yang pasti, saya senang jalan-jalan. Lebih menyenangkan menurut saya daripada duduk bekerja di kantor dari pagi sampai sore. Sehingga jika ada kesempatan seperti ini, saya akan dengan sadar dan suka hati mengambilnya.

Namun semesta sepertinya senang menguji dan mempermainkan saya.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, saat ini saya sedang mengurus usulan kenaikan jabatan akademik ke tingkat Lektor. Prosesnya sudah berjalan sejak pertengahan Agustus lalu dan tinggal menunggu pembaruan jadwal untuk tahapan berikutnya. Hingga kemudian, panggilan untuk berangkat ke lapangan ini datang.

Pada hari keberangkatan, saya bertindak sebagai pengemudi rombongan—peran yang seolah sudah sewajarnya bagi saya, seperti pada kegiatan-kegiatan prodi sebelumnya. Posisi di balik kemudi ini membuat saya melepaskan pandangan sejenak dari ponsel, alat utama yang menghubungkan saya dengan hiruk-pikuk kabar dari kampus. Konsekuensinya, saya rawan tertinggal informasi penting, termasuk yang berkaitan dengan usulan Lektor saya.

Dan benar saja. Begitu rombongan berhenti di sebuah persinggahan, barulah saya mengetahui bahwa hari itu seluruh pengusul kenaikan jabatan diwajibkan melengkapi dan mengunggah berkas persyaratan ke sistem administrasi. Beberapa dokumen bahkan belum sempat saya pegang fisiknya dan saya baru mengetahui tenggat waktu tersebut hari itu juga. Seketika, kepanikan pun menjalar.

Saya pun menyampaikan kabar itu kepada tim dan juga kepada ketua tim, Pak Kalab, yang kebetulan ikut dalam rombongan. Kawan-kawan maklum, mendukung, dan sepakat memberikan kesempatan bagi saya nanti di lapangan untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi ini. Saya merasa lega dan berharap—hanya berharap—semoga nanti di lapangan ada jaringan seluler yang memadai.

Di sisa perjalanan, saya selalu mencuri-curi kesempatan untuk menyicil berkas. Setiap kali rombongan berhenti beristirahat, saat itu juga saya langsung membuka laptop (untungnya saya memang sudah bersiap untuk skenario terburuk semacam ini). Di satu titik, kami bahkan sempat mampir ke warung fotokopi untuk mencetak dokumen, membubuhkan meterai dan tanda tangan basah, lalu meminta bantuan Pak Kalab untuk memindainya lewat ponsel. Ada untungnya juga berkas dikumpulkan secara digital. Bayangkan kalau harus diserahkan dalam bentuk hardcopy, mungkin saya sudah melempar handuk sejak kabar tenggat waktu itu muncul.

Pukul tiga sore waktu setempat, kami tiba di kawasan perusahaan. Kami disambut oleh tim humas yang sebelumnya berkomunikasi dengan kami, lalu diarahkan untuk berkoordinasi dengan tim HSE (Health, Safety, & Environment) terkait detail pekerjaan. Setelah itu, kami bersama tim humas, tim HSE, serta petugas pemadam kebakaran langsung bergerak menuju lokasi pengukuran.

Lokasi pengukuran berada di areal perusahaan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan produksi yang dikelola warga setempat. Daerah hutan produksi tersebut penuh jejak arang dan abu—tanda bahwa kebakaran lahan telah terjadi sebelumnya. Lahan perusahaan hanya dibatasi oleh jalan batu selebar sekitar tiga meter.

Di sisi lahan perusahaan, tampak usaha yang sebelumnya telah dilakukan untuk menyuplai air pemadaman: penggalian tanah agar air dekat permukaan terkumpul. Dari pengamatan, terlihat muka air dalam galian tersebut memiliki kedalaman yang cukup dalam, antara satu setengah hingga dua meter dari permukaan tanah, dan jumlahnya sangat terbatas. Saya pun paham urgensi pembuatan sumur bor di sini.

Sebelum kami memulai pengukuran, tim pemadam diinstruksikan menyiram area lahan bekas terbakar. Ketika kami tiba, beberapa bagian area memang masih mengeluarkan asap, bahkan beberapa titik tanahnya masih terasa hangat. Kami memutuskan membentangkan kabel geolistrik pada area jalan batu—sebuah usaha untuk menghindari kemungkinan lahan terbakar kembali dan melahap kabel alat geolistrik kami.

Setelah kabel dan elektroda terpasang, kami memulai pengukuran. Karena kami menggunakan kabel multichannel buatan sendiri, workload kami bisa dibilang lebih ringan, sehingga anggota tim lain selain operator dapat beristirahat ketika pengukuran berlangsung. Namun saat kami berdiam di tempat ini cukup lama, barulah kami rasakan sesaknya berada di dalam kabut asap tepat di dekat sumbernya. Masker yang kami bawa seolah tidak terlalu membantu.

Proses pengukuran geolistrik hari itu menuntut perhatian ekstra. Selain harus memastikan kontak elektroda tetap optimal di tanah yang kering kerontang dengan menyiramkan air, kami juga harus ekstra waspada menjaga kabel alat agar tidak luluh oleh sisa-sisa bara api. Namun di tengah kesibukan fisik itu, pikiran saya terus terusik oleh pesan kesalahan di sistem administrasi Lektor. Mengetahui bahwa berkas saya menjadi satu-satunya yang masih perlu disempurnakan dan sedang ditunggu oleh pimpinan fakultas jelas memberi beban tersendiri. Ada dilema yang menggelitik: di lapangan saya berusaha tampil responsif mengatasi krisis, sementara di layar ponsel, saya tampak seperti orang yang paling terlambat merespons tenggat waktu.

Pengukuran terus berlanjut hingga malam menjelang. Begitu gelap turun, barulah kami menyaksikan wajah sebenarnya dari lokasi ini. Beberapa kali terdengar gemeretak ranting yang lahap terbakar. Tak jarang, api tiba-tiba membara dan membesar dengan cepat di balik semak-semak—memancarkan pendar merah yang menyambar pepohonan tak jauh dari lintasan pengukuran kami. Suasana inilah yang terus menemani kerja kami hingga selesai pada pukul delapan malam.

Usai pengukuran, kami langsung menuju hotel tempat kami diinapkan untuk beristirahat. Namun alih-alih beristirahat, pikiran saya justru makin tertaut pada berkas pengajuan Lektor yang masih nyangkut itu. Saya terus berkirim pesan dengan tendik dan rekan dosen yang bernasib sama. Saya makin panik dan merasa bersalah saat membaca pesan di grup WhatsApp bahwa berkas saya adalah satu-satunya yang belum beres dan sedang ditunggu oleh Dekan.

Akhirnya sekitar pukul sembilan malam, kendala teknis pada usulan tersebut berhasil saya selesaikan. Meski begitu, ini barulah awal dari rantai birokrasi panjang: berkas harus diverifikasi operator, disahkan Dekan, diteruskan ke tingkat universitas, hingga melewati pembahasan rapat senat sebelum gelar "Lektor" itu resmi tersemat. Proses yang panjang, memang. Namun setidaknya untuk malam itu, tugas saya sudah selesai dan sisanya tinggal menunggu esok hari.

Keesokan harinya, kami melanjutkan pengambilan data di lokasi berbeda yang kondisinya ternyata jauh lebih parah. Dampak karhutla terasa kian intens dengan kepulan asap yang pekat. Arang sisa pembakaran semak dan deretan pohon sawit memancarkan radiasi panas yang membuat suhu udara sekitar kian menyengat, sementara pasokan air di permukaan tanah hampir tak bersisa.

Dari pengamatan saya, lokasi ini merupakan kawasan hutan tanaman produksi berisi kelapa sawit tua yang jarang terawat. Sebuah jalan tanah merah berbatu menjadi penyekat antara kawasan ini dengan areal perusahaan. Parit pembatas di sisi jalan tampak mengering dan kosong melompong—sebuah indikasi jelas bahwa muka air tanah telah merosot ke tingkat yang mengkhawatirkan dan membuat lapisan gambut di bawahnya sangat rentan terbakar.

Baru kali ini rasanya saya membentang lintasan geolistrik di dekat lahan gambut yang masih aktif terbakar. Beberapa kali saat pengukuran berlangsung, api tiba-tiba menyala kembali dan kami harus berjibaku memadamkannya dengan peralatan seadanya agar tidak melahap kabel geolistrik kami. Selain itu, kami juga berusaha mengurangi pekatnya asap yang dapat membuat kami lemas tak sadarkan diri.

Di sepanjang pengukuran ini, saya masih harap-harap cemas menunggu kelanjutan usulan saya. Saya bolak-balik membuka laptop dan mengecek laman sistem administrasi, sambil diselingi kesibukan memadamkan api dan menjaga kendaraan dari lalu lalang alat berat. Bahkan atas permintaan pihak perusahaan, saya sempat mengolah data awal secara cepat di lapangan agar hasilnya bisa langsung dipresentasikan.

Akhirnya sekitar pukul sebelas siang, usulan saya sudah mendapatkan pengesahan dari pimpinan fakultas. Saya pun menyelesaikan proses pengunggahan akhir dan bisa sedikit bernapas lega.

Benar-benar sebuah minggu yang aneh.

Ada kuliah yang harus berpindah daring akibat karhutla, pekerjaan lapangan yang datang mendadak, kabel geolistrik yang terbentang di dekat bara api, hingga asap pekat yang menguji napas. Dan di tengah semua itu, ada urusan administrasi kenaikan jabatan yang terus mengejar dari balik layar laptop.

Mungkin memang beginilah dinamika menjadi seorang dosen. Satu kaki berpijak di lapangan, sementara satu kaki lainnya tertahan di tumpukan berkas birokrasi—dan kita hanya bisa berharap tidak terjatuh di antara keduanya.

Komentar

Postingan Populer