Too Busy to Find a Time for Writing

Pontianak, 22 September 2026.

Ada jeda sekitar dua minggu lebih sejak terakhir kali saya menuliskan rangkuman dan refleksi di buku diari ini. Bukan karena disengaja, hanya saja fisik dan mental saya cukup terkuras akibat tumpukan pekerjaan selama dua minggu terakhir.

Semuanya bermula pada Sabtu, 5 September—hanya dua hari setelah pengukuran kami di salah satu perusahaan smelter bauksit Kalimantan Barat. Hari itu saya ikut mendampingi pengukuran geolistrik untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Prodi Geofisika. Tahun ini, prodi kami memang sedang gencar mendorong kegiatan Tridarma yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh warga, dan PkM ini adalah salah satu wujud nyatanya.

Berlokasi di sebuah pondok pesantren di pinggiran Kota Pontianak, kegiatan ini bertujuan merancang instalasi pengolahan air tanah. Pengukuran geolistrik kami lakukan untuk mengidentifikasi kedalaman dan keberadaan lapisan akuifer yang nantinya menjadi target pengeboran.

Singkat cerita, di balik keterlibatan saya pada pengukuran ini, sebenarnya ada motif terselubung: membawa anak-anak jalan-jalan. Saya mengajak kedua anak saya untuk melihat langsung proses pengambilan data—hitung-hitung membayar utang waktu bermain bersama mereka yang sering kali tersita. Saya juga ingin mereka melihat langsung bagaimana ayahnya bekerja.

Sementara itu, kondisi Kota Pontianak masih diselimuti kabut asap yang pekat—bahkan rasanya makin memburuk dibanding hari-hari sebelumnya. Akibatnya, kebijakan perkuliahan daring masih diperpanjang. Saya pun kembali mengajar dari rumah. Tidak ada masalah berarti, hanya saja minusnya saya tidak bisa berinteraksi dan berdiskusi secara luwes dengan para mahasiswa seperti saat tatap muka.

Pertanda akan datangnya hari-hari yang menguras energi dan pikiran muncul pada Rabu, 9 September. Hari itu, Kepala Laboratorium mengabarkan di grup WhatsApp bahwa kami harus berangkat lagi ke perusahaan smelter bauksit tempat kami minggu lalu bekerja, untuk pengambilan data geolistrik susulan. Kali ini targetnya adalah pencarian air tanah untuk sumur warga—pekerjaan yang sebenarnya menjadi poin awal negosiasi kami dengan pihak perusahaan. Pak Kalab meminta kami berangkat hari Sabtu, dengan harapan hari Minggu pekerjaan sudah selesai, sehingga Senin kami sudah bisa presensi di kampus.

Sabtu pagi, sekitar pukul delapan, kami berangkat menuju lapangan menggunakan mobil pelat merah milik fakultas. Berkaca dari pengukuran pertama minggu lalu—di mana kami merasa terlalu sore tiba di lokasi—kali ini kami memilih berangkat lebih pagi dan meminimalisir tempat singgah. Harapannya, kami bisa sampai lokasi sekitar pukul satu siang dan tidak perlu mengukur sampai gelap malam.

Namun, ya... harapan tinggal harapan.

Kami tiba di area perusahaan sekitar pukul sebelas lewat. Kendati demikian, kami tidak bisa langsung turun ke lapangan karena titik pasti lokasi pengukuran belum dikonfirmasi. Saya tidak tahu apakah ada kendala komunikasi antara pihak perusahaan dan warga, atau ada tarik-ulur dan konflik antarwarga terkait lokasi rancangan sumur bor. Yang jelas, ketidakpastian ini membuat kami hanya bisa menunggu tanpa melakukan kegiatan yang berarti.

Secercah kepastian akhirnya muncul bersama kedatangan seorang Ketua RT setempat. Bersama tim humas perusahaan, beliau memberi lampu hijau dan mengizinkan kami melakukan pengukuran di lahan miliknya. Kami pun bergegas menuju lokasi dengan penuh semangat—begitu bersemangatnya hingga kami lupa meminjam dan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) standar perusahaan seperti helm, rompi high-visibility, dan sepatu safety. Sebuah keteledoran yang belakangan sangat saya sesali.

Lokasi pengukuran berada di lahan kebun di belakang sebuah sekolah, persis di belakang pemukiman warga yang sebagian ditanami bibit kelapa sawit. Karena posisinya di belakang perumahan dan elevasinya cenderung lebih rendah, secara alami beberapa bagian lahan ini otomatis menjadi area resapan sekaligus "pembuangan" limbah rumah tangga.

Di sela-sela obrolan dengan Ketua RT, kami mendapatkan cerita menarik di balik alasan beliau merekomendasikan lahan ini. Dulu, pada masa-masa awal berdirinya perusahaan, sebuah sumur pantau dibangun di salah satu lahan warga untuk mengamati limbah sebagai bentuk mitigasi dampak lingkungan. Namun belakangan, warga pemilik tanah malah mengklaim sumur tersebut sebagai milik pribadi dan melarang warga lain ikut memanfaatkannya.

Sebenarnya, saat proses penjajakan kerja sama awal, dinamika seperti ini sudah sempat kami singgung. Pihak perusahaan awalnya malah menyarankan agar titik pengukuran dan pemboran dilakukan di area milik perusahaan saja untuk menghindari potensi konflik pembebasan lahan. Waktu itu kami menanggapi hal tersebut dengan enteng, asalkan lokasi pengukuran memiliki panjang lintasan yang mencukupi. Nature dari metode geolistrik—yang mungkin orang awam kurang pahami—memang membutuhkan jalur lurus yang cukup panjang tergantung target kedalaman. Dugaan kami, akuifer berada di kedalaman minimum 40 meter, sehingga butuh panjang bentangan minimal 200 hingga 300 meter.

Sebelum alat dipasang, saya dan tim harus menerobos semak-semak dan kebun becek untuk mengukur panjang lintasan. Di sinilah keteledoran kami melupakan APD itu dibayar tunai. Karena terlampau bernafsu mengejar waktu dan diterpa sedikit miskomunikasi, sebagian besar tim tidak bersiap dengan sepatu yang proper. Saya bahkan hanya memakai sandal Crocs saat menembus semak belukar dan area buangan yang dipenuhi pecahan kaca. Saya pun membatin, meratapi nasib, sembari berseloroh kepada tim: "Memang begini kalau di lapangan, harus siap SOP standar secara pribadi dan jangan menggantungkan diri pada fasilitas pihak lain."

Saat itu sudah sekitar pukul setengah tiga sore ketika kami akhirnya merampungkan tahap persiapan. Kabel terbentang, elektroda terpasang, dan operator siap memulai pengukuran.

Suasana sekitar tampak sangat suram oleh kabut asap yang pekat. Di salah satu ujung bentangan kabel yang berada di area persawahan datar, pandangan kami tertutup warna kelabu. Atmosfernya mirip seperti latar video game klasik dengan drawing distance sangat rendah—mirip kota kabut Silent Hill di era PlayStation 1. Di tengah lintasan, kabel kami melintasi jalan aspal yang untungnya tidak terlalu ramai, meski beberapa kali truk dan mobil barang melintas melindas kabel kami. Beruntung tidak ada ekskavator atau alat berat yang lewat. Kalau ada, habislah kabel kami putus tergilas.

Pengukuran berlangsung hingga pukul setengah enam sore. Setelah itu, kami menuju kantor perusahaan untuk berkoordinasi mengenai jadwal esok pagi. Rencananya ada dua lokasi yang harus diukur, jadi ketua tim meminta agar besok kami bisa mulai lebih awal supaya tidak terlalu malam dan bisa langsung kembali ke Pontianak. Usai koordinasi, kami pun bergeser ke hotel untuk beristirahat.

Hari Minggu, 13 September, kami sudah berkumpul di area kantor perusahaan sejak pukul delapan pagi. Perhitungan matematis kami cukup optimistis: jika bisa langsung mengukur, lintasan pertama akan selesai sebelum makan siang. Lalu, jika lintasan kedua dimulai pukul satu siang, kami bisa rampung pukul empat sore. Lalu kami bisa bertolak ke Pontianak saat matahari masih terang.

Namun lagi-lagi, rencana tinggal rencana. Dan skenario ideal terbentur realita lapangan.

Masalah kepastian lokasi kembali membentur kami. Beruntung, salah satu officer dari tim HSE mengambil inisiatif membawa kami ke lokasi alternatif dekat area perusahaan yang berbatasan dengan pemukiman. Dan kali ini, belajar dari kesalahan kemarin, kami tidak lupa meminjam dan memakai APD lengkap.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul sembilan lewat. Lokasi kedua ini ternyata berada di dekat area tailing—tumpukan residu pengolahan bauksit.

Lintasan kabel kami bentangkan memotong area tailing hingga melintasi pemukiman warga. Keberadaan tumpukan residu inilah yang memicu kecemasan warga hingga meminta bantuan sumur air bersih, karena mereka khawatir sumur dangkal mereka tercemar. Saya tentu tidak ingin berspekulasi sebelum ada studi hidrogeologi yang pasti. Namun dari keterangan perusahaan, prosedur mitigasi limbah sebenarnya sudah dijalankan sesuai standar.

Kenampakan lokasi ini relatif datar meski berada di kaki bukit. Belakangan saya tahu bahwa area ini telah mengalami rekayasa geoteknik. Kawasan yang sekarang menjadi tailing dulunya adalah area rendahan berupa rawa dan kubangan bekas tambang pasir yang kemudian ditimbun dan diratakan. Di sampingnya, perbukitan rendah tampak dikeruk. Saya tidak bisa membayangkan secara detail topografi aslinya, tetapi gambaran umumnya jelas: perubahan topografi sebesar ini kemungkinan besar telah mengubah pola akuifer alaminya.

Suasana di area tailing terasa sangat surreal. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan rapi tanah merah. Dipadu dengan langit kelabu kekuningan akibat asap, pemandangannya terasa seperti di planet lain. Kesan fiksi ilmiah ini semakin kuat karena minimnya bangunan di horison, kecuali beberapa fasilitas pabrik smelter yang menjulang tinggi di kejauhan. Serasa berada di dalam film sci-fi saat manusia mengkolonisasi planet asing untuk mengeruk sumber daya mineralnya. Saya pun menyempatkan diri mengabadikan pemandangan tersebut lewat kamera ponsel.

Pengukuran di lokasi ini selesai pukul 12.45 WIB, dan kami kembali ke kantor perusahaan untuk beristirahat. Entah karena terlalu banyak menghirup kabut asap selama beberapa hari atau karena tubuh memang sudah mencapai batasnya, rasa kantuk yang luar biasa mendadak menyerang. Alhasil, saya sempat tertidur lelap di bangku panjang kantin perusahaan.

Saya terbangun ketika mendapat kabar mengenai lokasi selanjutnya. Saat itu sudah pukul tiga sore, dan kami bergegas menuju lokasi untuk mengejar waktu. Sesampainya di sana, lokasi ketiga ini ternyata berupa jalan tanah di atas batuan lapuk yang berkelok mengikuti kontur perbukitan landai.

Di sini kami menghadapi dilema. Secara ideal, lintasan geolistrik harus ditarik lurus.Namun jika memaksakan lintasan lurus, kami harus merambah semak dan membuka lahan dengan panjang yang lumayan, sementara waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat sore.

Demi efisiensi, kami memutuskan memasang lintasan mengikuti kelok jalan. Konsekuensinya, akan ada artefak geometri pada hasil pencitraan data. Namun karena asumsi litologi batuan di area ini relatif seragam, bias tersebut dapat dikompensasi saat tahap interpretasi nanti.

Kami pun berlomba dengan waktu menggunakan "mode cepat". Koordinasi dan kecerdikan tim sangat diuji di situasi seperti ini. Walaupun dilakukan secara kilat, kualitas data tetap menjadi prioritas utama. Hasilnya luar biasa: pengukuran rampung hanya dalam waktu sekitar dua jam, tepat pada pukul enam sore!

Ketika kembali ke kantor perusahaan untuk melaporkan bahwa pekerjaan telah selesai, kejutan lain menanti: pihak perusahaan meminta kami menambah satu lintasan lagi! Alasan mereka, lintasan yang kami ukur kemarin dan hari ini lokasinya agak berdekatan.

Kami sempat kelabakan, terutama karena memikirkan perizinan dan tugas di kampus pada hari Senin. Ketua tim segera menghubungi pimpinan fakultas untuk meminta izin. Mungkin karena bertepatan dengan waktu ibadah, responsnya agak lambat. Namun pada akhirnya izin keluar, dan kami pun resmi menambah masa menginap sehari lagi.

Senin pagi, 14 September, kami melanjutkan pengambilan data di lintasan tambahan. Lokasinya berada di area datar sepanjang kaki bukit batu yang memanjang dan terjal. Dari morfologinya, saya menduga bukit ini merupakan hasil intrusi dyke, meski saya tidak sempat mengamati struktur singkapannya lebih dekat.

Lintasan kami bentangkan di tepi jalan yang lurus, bersampingan dengan bongkahan-bongkahan batu yang tersingkap—kemungkinan besar merupakan endapan talus dari bukit di belakang rumah warga. Elektroda kami pasang di sisi jalan yang mengarah ke bukit.

Di seberang lintasan, terhampar area persawahan. Di sana banyak terdapat sumur bor dangkal milik warga. Hal yang menarik, beberapa warga bercerita bahwa keberadaan air tanah di sini sangat kontras: bergeser puluhan meter saja, sumur bisa sama sekali kering. Bahkan jika pemboran dilakukan mendekati parit besar di ujung lintasan, air yang keluar bahkan terasa payau.

Fenomena perubahan fasies dan tatanan air tanah yang ekstrem ini sungguh memantik rasa penasaran saya sebagai seorang geofisikawan. Sayangnya, waktu kami sangat terbatas.

Pengukuran di lintasan terakhir ini berjalan lancar dan selesai saat makan siang. Setelah merapikan alat dan makan di warung lokal, kami kembali ke kantor perusahaan untuk menyelesaikan urusan administrasi. Di tengah perjalanan, kami melewati lokasi yang sempat kami ukur sehari sebelumnya. Ternyata, tim teknis perusahaan sudah langsung menurunkan mesin bor di titik rekomendasi kami!

Rasa penasaran membuat kami berhenti untuk melihat konfirmasi data lapangan. Dari diskusi singkat dengan tim pemboran, kedalaman lapisan pembawa air yang ditemukan ternyata presisi dengan hasil pemodelan geolistrik kami. Bahkan, ketua tim pemboran sempat berdecak kagum dan memuji data kami "akurat sekali" sambil penasaran dengan instrumen yang kami gunakan.

Rasa lelah seketika menguap, berganti dengan kepuasan yang membuncah. Tidak ada perasaan yang lebih memuaskan bagi seorang akademisi selain melihat teori, metode, dan alat yang dirancangnya terbukti presisi dan memberi manfaat nyata di lapangan.

Kami pun meninggalkan lokasi dengan dada lapang.

Pukul sepuluh malam, rombongan kami tiba kembali di Kampus FMIPA Untan, Pontianak. Saya sendiri baru sampai di rumah sekitar pukul sebelas malam, dan langsung terkapar tidur di atas karpet ruang tamu hingga pagi menerpa.

Ah, tidak terasa panjang juga tulisan kali ini. Ternyata memang banyak sekali hal yang terjadi—baik secara fisik maupun mental—yang membuat dua minggu ini terasa begitu padat. Memang cukup masuk akal hal ini menyita waktu menulis saya. Namun setidaknya, catatan ini berhasil merangkum semuanya.

Well, mungkin untuk kali ini sampai di sini dulu. Kita lanjutkan di lain waktu.

Komentar

Postingan Populer