Tentang Buku yang Dibaca dan Pikiran yang Tertinggal

Pontianak, 27 September 2026.

Ada sebuah percakapan yang masih saya ingat sampai sekarang, meskipun kejadiannya sudah cukup lama. Waktu itu, seorang dosen senior yang telah pensiun datang kembali ke jurusan. Beliau berbincang dengan beberapa dosen muda, termasuk saya yang kebetulan sedang berada di sana. Obrolannya ngalor-ngidul, membahas berbagai hal seperti yang biasa terjadi ketika beberapa orang berkumpul tanpa agenda pembicaraan yang terlalu jelas. Sampai kemudian, entah bagaimana awalnya, beliau bertanya kepada kami: buku apa yang sedang dibaca?

Salah seorang kawan menjawab bahwa belakangan ini buku yang dibaca paling-paling hanya buku referensi dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan pekerjaan. Saya tidak ingat persis bagaimana percakapan itu berlanjut. Namun, jawaban tersebut rupanya meninggalkan sesuatu di pikiran saya.

Iya juga, ya. Sudah berapa lama saya tidak membaca buku di luar urusan pekerjaan?

Sebelum bekerja dan menikah, ketika masih lajang, saya cukup sering menghabiskan uang untuk membeli buku. Uang itu berasal dari berbagai pekerjaan sambilan: mengajar les, menjadi asisten praktikum, ikut kegiatan lapangan, dan pekerjaan serabutan lainnya. Tidak semuanya menghasilkan banyak uang, tetapi tetap saja ada yang saya sisihkan untuk membeli buku.

Kadang saya membeli buku di toko buku. Di Jogja, tempat asal saya, alternatif untuk membeli buku memang sangat banyak dan jalan-jalan ke toko buku sendiri saya anggap bisa menjadi terapi pribadi. Kadang juga jika saya penasaran dengan buku yang sulit ditemukan di toko, saya mencari versi digitalnya di internet. Buku-buku klasik yang sudah masuk domain publik biasanya cukup mudah ditemukan. Ada semacam kepuasan tersendiri ketika berhasil menemukan buku yang selama ini ingin dibaca, lalu menyimpannya untuk dinikmati pada waktu senggang. Tentu saja, membaca buku tidak selalu berarti menyelesaikannya. Namun, pada masa itu, membeli dan membaca buku di luar kebutuhan kuliah atau pekerjaan terasa seperti bagian biasa dari kehidupan saya.

Setelah bekerja, menikah, dan menjalani berbagai kesibukan, kebiasaan tersebut perlahan berkurang. Buku yang saya baca semakin didominasi referensi ilmiah, artikel jurnal, atau bahan lain yang memang diperlukan untuk pekerjaan. Kalau dipikir-pikir, tidak ada yang salah dengan itu. Pekerjaan sebagai dosen memang menuntut kita untuk terus belajar dan membaca. Namun, percakapan dengan dosen senior tadi membuat saya bertanya-tanya: apakah membaca harus selalu memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan? Apakah sebuah buku baru layak dibaca ketika ada sesuatu yang harus saya kerjakan, sebuah persoalan yang harus diselesaikan, atau pengetahuan tertentu yang perlu saya kuasai?

Saya tidak punya jawaban yang pasti. Bahkan, saya juga sempat bertanya-tanya apakah membaca buku fiksi atau buku lain di luar bidang keilmuan benar-benar memberikan manfaat yang berarti. Bukankah waktu yang tersedia bisa digunakan untuk membaca sesuatu yang lebih relevan dengan pekerjaan? Pertanyaan itu tidak serta-merta mengubah kebiasaan saya. Hidup terus berjalan, dengan pekerjaan dan urusannya masing-masing.

Kalau tidak salah ingat, ketika mudik Lebaran pada 2024, saya sempat mengunjungi bazar buku bersama istri dan anak. Entah apakah percakapan dengan dosen senior tadi masih ada dalam pikiran saya saat itu, tetapi saya akhirnya membeli sebuah buku yang sudah cukup lama ingin dibaca: Madilog, karya Tan Malaka.

Buku itu masih ada sampai sekarang. Sayangnya, sampai tulisan ini dibuat, saya belum juga menyelesaikannya. 

Barangkali ini salah satu ironi kecil dalam kebiasaan membaca: kita bisa begitu bersemangat ketika menemukan dan membeli sebuah buku, tetapi tidak selalu memiliki ketekunan untuk menuntaskannya. Buku sudah berada di tangan, sementara waktu untuk membacanya terus dicari-cari. 

Kemudian, pada 2026, dua tahun setelah buku terakhir yang saya beli, saya membeli buku lain. Kali ini sebuah novel yang sudah cukup dikenal: 1984, karya George Orwell. Saya membelinya ketika ada diskon buku besar-besaran. Saat itu, kalau ingatan saya tidak keliru, Indonesia sedang mengalami situasi yang cukup merepotkan terkait pasokan energi. Pemadaman listrik bergilir terjadi di sejumlah tempat, sementara antrean BBM juga menjadi pemandangan yang banyak dibicarakan. Di tengah keadaan tersebut, saya justru menemukan kesempatan untuk membeli sebuah novel. Tidak ada rencana besar di balik pembelian itu. Saya hanya ingin membaca sebuah buku. Dan kebetulan buku yang terlintas di kepala saya adalah buku itu.

Singkat cerita, pada September 2026, buku itu pun selesai saya baca.

Perasaan saya bercampur aduk setelah membacanya. Hal itu bahkan mendorong saya untuk menuliskan beberapa catatan di diari segera setelah menuntaskan 1984.

Sejak awal membaca, saya sempat membandingkan buku itu dengan diari yang saya tulis sendiri. Winston Smith, tokoh utama novel tersebut, menuliskan keresahannya dalam sebuah diari. Ia membutuhkan ruang privat untuk menyimpan pikiran yang tidak mungkin diucapkan secara terbuka, di tengah kehidupan yang seluruh aspeknya berada di bawah pengawasan negara.

Saya merasa memahami dorongan itu. Ada semacam gairah pemberontakan dalam tindakan Winston menulis, juga harapan bahwa keadaan yang menindasnya mungkin bisa berubah.

Namun, semakin jauh saya membaca, semakin jelas bahwa harapan itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Ruang-ruang yang semula terasa aman, tempat Winston melarikan diri dari kenyataan hidupnya, ternyata merupakan bagian dari jebakan yang telah disiapkan. Pada akhirnya, sistem yang ia lawan berhasil menguasainya kembali. Tidak ada akhir yang melegakan. Tidak ada kemenangan yang bisa dirayakan. Yang tersisa justru gambaran tentang betapa jauh sebuah kekuasaan bisa melangkah ketika tidak ada lagi batas yang mampu menahannya.

Hal yang paling mengerikan bagi saya bukan semata-mata pengawasan terhadap kehidupan pribadi atau pembatasan kebebasan. Lebih dari itu, Orwell menggambarkan sebuah rezim yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Kekuasaan tidak lagi dipertahankan demi mencapai sesuatu di luar dirinya, seperti kesejahteraan masyarakat atau cita-cita tertentu. Kekuasaan dipertahankan agar kekuasaan itu sendiri terus bertahan.

Seluruh sistem kemudian diarahkan untuk memastikan hal tersebut terjadi. Aturan, lembaga, informasi, bahkan cara manusia memahami kenyataan, semuanya dapat menjadi bagian dari mekanisme yang menjaga kekuasaan. 

Ketika kekuasaan tidak lagi dibatasi oleh aturan yang seharusnya mengendalikannya, apa yang bisa mencegahnya terus meluas? Jika aturan dapat diubah sesuai kepentingan penguasa, sementara lembaga yang seharusnya menjadi penyeimbang kehilangan daya, bukankah sistem semacam itu pada akhirnya hanya akan bekerja untuk mempertahankan dirinya sendiri?

Saya tidak tahu apakah semua pembaca 1984 akan sampai pada pemikiran yang sama. Namun, bagi saya, bagian inilah yang membuat novel tersebut terasa begitu mengerikan.

Dan yang lebih mengganggu, saya sempat membandingkan diri saya dengan Winston pada bagian awal cerita.

Saya membaca 1984 sebagai sebuah karya fiksi, tetapi beberapa gagasannya terasa terlalu dekat dengan kenyataan yang sedang kita hadapi. Ketika melihat bagaimana aturan dapat diubah-ubah dan oposisi tampak tidak berdaya, saya tidak bisa sepenuhnya menjaga jarak antara dunia Oceania dan dunia tempat saya hidup sekarang. Tentu saja, dunia nyata tidak serta-merta sama dengan dunia yang dibangun Orwell. Sebuah novel bukanlah peta yang bisa digunakan untuk menjelaskan seluruh keadaan politik. Namun, fiksi terkadang memberi kita cara untuk melihat kembali sesuatu yang sebelumnya terasa biasa, atau setidaknya sesuatu yang tidak cukup kita pikirkan.

Di situlah pengalaman membaca 1984 menjadi personal bagi saya. Keresahan Winston tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Saya mulai memikirkan kembali arti kebebasan, batas kekuasaan, dan pentingnya aturan yang benar-benar mampu membatasi mereka yang memegang kekuasaan. Saya juga kembali memikirkan diari saya sendiri. Tentu saja, menuliskan pikiran di sebuah buku tidak serta-merta menjadikan seseorang pemberontak, apalagi mengubah keadaan. Namun, ada sesuatu yang terasa penting dalam memiliki ruang untuk berpikir dan mencatat keresahan, tanpa harus segera mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna, produktif, atau bisa dipertanggungjawabkan sebagai hasil pekerjaan.

Mungkin itulah salah satu hal yang saya dapatkan dari membaca novel ini. Bukan jawaban yang pasti, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang terus tertinggal setelah halaman terakhir ditutup.

Saya teringat kembali pada pertanyaan dosen senior beberapa tahun lalu: buku apa yang sedang dibaca?

Waktu itu, pertanyaan tersebut membuat saya menyadari bahwa bacaan saya semakin terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Kini, setelah membaca 1984, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya telah menemukan jawaban pasti tentang manfaat membaca buku di luar bidang keilmuan. Saya juga belum bisa menjanjikan bahwa kebiasaan membaca ini akan terus bertahan, apalagi bahwa tumpukan buku di rumah akan segera berkurang. Madilog saja belum selesai.

Namun, setidaknya, saya kembali membaca sesuatu yang tidak harus saya baca untuk mengajar, meneliti, atau memenuhi tuntutan pekerjaan. Dan dari sesuatu yang awalnya mungkin hanya sebuah novel, saya justru menemukan bahan untuk memikirkan kembali dunia di sekitar saya.

Tentang kekuasaan. Tentang kebebasan. Tentang ruang pribadi untuk berpikir.

Semoga tidak sampai terjadi.

Komentar

Postingan Populer