September, So Far

Pontianak, 30 September 2026.

September turned out to be a little bit of everything.

Ada kabar baik, kegiatan lapangan, pekerjaan pengabdian masyarakat, persiapan edukasi publik, dan tentu saja urusan administrasi yang sepertinya tidak pernah benar-benar selesai. Di antara semuanya, ada pula beberapa momen yang membuat saya mempertanyakan diri sendiri, baik sebagai dosen maupun sebagai seseorang yang sedang berusaha mengejar sesuatu di luar rutinitas sehari-hari.

Kalau harus merangkum paruh kedua September ini dalam satu kalimat, mungkin begini: ada banyak hal yang berjalan, tetapi tidak semuanya berjalan sesuai harapan.

The highs: back to the field

Salah satu hal yang cukup menyenangkan bulan ini adalah kesempatan kembali ke lapangan. Pada 19–20 September, saya mendampingi kegiatan akuisisi data geolistrik 2D dan 1D untuk penelitian mahasiswa yang didanai melalui DIPA penelitian 2026. Lokasinya berada di kawasan kubah gambut Desa Arang Limbung, Kabupaten Kubu Raya.

Sejujurnya, dalam kegiatan ini posisi saya lebih banyak sebagai supervisor sekaligus orang yang membantu urusan logistik (baca: supir). Mahasiswalah yang menjadi aktor utama dalam pengambilan data. Saya hanya memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, berada di lapangan tetap memberikan kesenangan tersendiri. Ada sesuatu yang berbeda ketika berhadapan langsung dengan kondisi nyata, dibandingkan hanya duduk di depan komputer atau menjelaskan konsep di ruang kelas. Belum lagi suasana lokasi penelitian yang ternyata membawa pengalaman cukup nostalgik.

Di tengah lanskap gambut khas Kalimantan Barat, saya menjumpai suasana permukiman yang terasa sangat Jawa. Percakapan dalam bahasa Jawa terdengar di sepanjang kegiatan, bahkan beberapa orang masih menggunakan bahasa Jawa halus yang cukup jarang saya temui dalam keseharian di sini.

Rasanya familiar sekaligus sedikit aneh. Sebuah potongan suasana yang terasa dekat, tetapi hadir di tempat yang secara geografis cukup jauh dari bayangan saya tentang kampung halaman.

Di sisi lain, pengalaman ini juga kembali mengingatkan saya bahwa pekerjaan lapangan selalu punya konsekuensi personal. Dua hari meninggalkan rumah bukan waktu yang terlalu lama, tetapi saya mulai menyadari bahwa anak saya semakin sering memprotes ketika saya harus pergi lagi.

Saya senang bisa kembali melakukan pekerjaan geofisika, tetapi ada bagian dari diri saya yang merasa tidak nyaman karena harus meninggalkan keluarga. Rupanya, menikmati pekerjaan dan merasa bersalah karena meninggalkan rumah bisa hadir bersamaan. Tidak harus memilih salah satunya.

Ada pula kabar baik yang datang pada 18 September: saya dinyatakan lulus sertifikasi dosen tahun 2026.

Sebuah pencapaian yang patut disyukuri, meskipun setelah itu masih ada tanggung jawab untuk mempertahankan berbagai persyaratan yang menyertainya. Setidaknya, ada satu hal yang bisa saya tandai sebagai kabar baik di tengah berbagai urusan lain yang belum selesai.

The busy days: teaching, community service, and public education

Setelah kegiatan lapangan, pekerjaan tidak lantas menjadi lebih ringan.

Pada 21 September, tim pengabdian kepada masyarakat menindaklanjuti kegiatan di pondok pesantren melalui pemasangan instalasi penampungan dan pengolahan air. Sayangnya, saya tidak bisa hadir langsung membantu kegiatan tersebut. Kondisi fisik setelah dua hari di lapangan membuat saya memilih bekerja dari rumah.

Saya tetap terlibat dalam pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah, tetapi melihat dokumentasi kegiatan membuat saya sedikit merasa bersalah karena tidak bisa ikut turun tangan. Pada saat yang hampir bersamaan, persiapan edukasi kulminasi matahari 2026 juga mulai memasuki tahap yang lebih konkret. Saya menjadi bagian dari tim kegiatan ini, dengan salah satu tugas berupa pembuatan banner.

Puncaknya berlangsung pada 23 September di Tugu Khatulistiwa, Pontianak. Ini menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan kulminasi matahari dalam kondisi kabut asap. Ada sesuatu yang menarik sekaligus memprihatinkan dari pengalaman tersebut. Sebuah fenomena alam yang menjadi salah satu daya tarik khas Pontianak harus diamati dalam kondisi atmosfer yang tidak sedang baik-baik saja.

Di balik kegiatan edukasi publik seperti ini, ada banyak pekerjaan kecil yang harus diselesaikan sebelum acara berlangsung. Rapat, persiapan perlengkapan, desain, dan berbagai urusan teknis lainnya. Tidak semuanya terlihat oleh peserta, tetapi semuanya tetap membutuhkan waktu dan tenaga.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa seluruh rangkaian pekerjaan itu selalu menyenangkan. Ada rasa lelah, ada pekerjaan yang terasa mendesak, dan ada kalanya saya hanya ingin menyelesaikan semuanya agar bisa beralih ke pekerjaan berikutnya.

Tetapi, jika dipikir-pikir lagi, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pekerjaan yang juga penting. Membawa pengetahuan keluar dari ruang kelas dan membuatnya bisa diakses oleh masyarakat adalah salah satu cara agar ilmu yang kita pelajari tidak berhenti menjadi urusan akademisi saja. Ada kepuasan tersendiri ketika ilmu pengetahuan bisa dibawa lebih dekat kepada orang-orang yang mungkin tidak memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengannya.

The lows: another round of administrative drama

Sayangnya, September juga membawa satu urusan yang cukup mengganggu pikiran: pengajuan jabatan fungsional Lektor.

Pada 23 September, ketika sedang berada di lokasi kegiatan edukasi kulminasi matahari, saya mendapat kabar bahwa dokumen pengajuan perlu diperbaiki. Masalahnya, salah satu persyaratan berkaitan dengan tautan arsip jurnal yang sudah tidak bisa diakses. Kedengarannya mungkin seperti persoalan teknis biasa. Namun, ketika sebuah proses administrasi bergantung pada dokumen atau tautan yang berada di luar kendali kita, persoalannya bisa menjadi jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Saya mencoba menghubungi pihak jurnal untuk mendapatkan akses kembali ke arsip yang diperlukan, tetapi belum memperoleh respons. Sementara itu, proses pengajuan sudah berjalan dan membutuhkan tindak lanjut. Akhirnya, pikiran saya terbagi dua. Secara fisik saya berada di kegiatan kulminasi matahari, tetapi sebagian pikiran terus memikirkan nasib pengajuan Lektor. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa urusan seperti ini selalu muncul ketika sedang berada di lapangan atau terlibat dalam kegiatan yang juga membutuhkan perhatian penuh? Tentu saja, mungkin ini hanya soal waktu yang kebetulan bertepatan. Namun, pada saat itu rasanya cukup menjengkelkan.

Keesokan harinya, saya berkonsultasi dengan pimpinan, dalam hal ini Wakil Dekan Umum dan Keuangan, untuk membicarakan persoalan tersebut. Saya kemudian melakukan perbaikan dokumen sesuai arahan yang diberikan. Ada sedikit rasa malu karena selama ini saya mungkin termasuk orang yang cenderung berjalan dengan cara sendiri dan tidak selalu cukup tertib mengikuti alur komunikasi yang tersedia. Kali ini, saya justru menyadari pentingnya berkonsultasi dan mengikuti arahan pimpinan sebelum mengambil langkah lebih jauh. Setidaknya, setelah berdiskusi dan melakukan perbaikan, saya merasa masih ada peluang untuk melanjutkan proses pengajuan.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengusahakan apa yang memang masih bisa diusahakan, lalu menunggu hasilnya. Que sera, sera. Whatever will be, will be.

Bukan berarti saya tidak peduli dengan hasilnya. Saya tetap berharap pengajuan ini bisa berjalan baik. Hanya saja, ada titik ketika terus-menerus mengkhawatirkan sesuatu tidak lagi membantu menyelesaikan masalah. Dan sepertinya saya perlu belajar membedakan kapan harus terus berusaha dan kapan harus berhenti menghabiskan energi untuk hal-hal yang berada di luar kendali.

A reality check in the classroom

Di tengah berbagai kesibukan tersebut, pekerjaan mengajar tetap berjalan seperti biasa.

Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran saya ketika memeriksa hasil UTS Geologi Indonesia pada 29 September. Dalam ujian tersebut, mahasiswa diminta membuat sayatan geologi berdasarkan peta geologi yang dioverlay dengan relief permukaan bumi. Sebelumnya, saya sudah melakukan review singkat terhadap materi yang akan diujikan, dengan harapan mahasiswa memiliki gambaran yang cukup untuk mengerjakan soal. Hasilnya ternyata tidak sesuai ekspektasi.

Saya melihat bahwa sebagian mahasiswa masih kesulitan membayangkan kondisi geologi bawah permukaan berdasarkan informasi yang tersedia di permukaan. Padahal, kemampuan membayangkan bentuk dan hubungan antarbagian dalam ruang merupakan salah satu keterampilan penting dalam mempelajari geologi. Awalnya, saya cukup kecewa. Saya sempat berpikir bahwa mahasiswa kurang menyimak materi yang sudah diberikan. Namun, setelah dipikirkan lagi, muncul pertanyaan lain: apakah cara saya mengajar sudah cukup membantu mereka membangun kemampuan tersebut?

Mungkin selama ini saya terlalu berharap bahwa penjelasan konsep dan contoh yang diberikan sudah cukup untuk membuat mahasiswa mampu mengerjakan persoalan serupa secara mandiri. Padahal, kemampuan membaca peta, membayangkan struktur tiga dimensi, dan menerjemahkannya menjadi sayatan geologi tidak selalu bisa dikuasai hanya dengan mendengarkan penjelasan. Mereka mungkin memang membutuhkan lebih banyak latihan konkret, mulai dari menggambar, memahami hubungan antara relief dan struktur geologi, hingga menyusun penalaran secara bertahap.

Setidaknya, ada satu hal yang bisa saya lakukan setelah melihat hasil ujian ini: memperbaiki pendekatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Tentu saja, bukan berarti seluruh persoalan ada pada cara mengajar saya. Mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk belajar dan berlatih. Namun, sebagai dosen, hasil seperti ini seharusnya tidak berhenti pada kekecewaan terhadap mahasiswa saja. Ada sesuatu yang bisa dievaluasi dari kedua belah pihak.

Itulah salah satu bagian yang tidak selalu nyaman dari pekerjaan mengajar: kita tidak hanya diminta menjelaskan materi, tetapi juga terus-menerus memeriksa apakah cara kita menjelaskan benar-benar membantu orang lain memahami sesuatu.

The final test

Menjelang akhir bulan, ada satu hal lain yang cukup menyita perhatian saya: seleksi bakat skolastik beasiswa LPDP.

Pada 24 September, saya menerima pengumuman bahwa saya lolos ke tahap seleksi ini. Tentu saja, kabar tersebut membawa perasaan senang sekaligus tegang. Saya tahu bahwa tahap berikutnya akan mempertemukan saya dengan banyak kandidat lain dari seluruh Indonesia.

Kemudian, pada 30 September, hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba.

Anehnya, saya merasa cukup santai. Mungkin bahkan terlalu santai. Saya tidak melakukan persiapan khusus yang berarti. Tidak ada sesi belajar intensif untuk mengulang berbagai tipe soal atau melatih strategi pengerjaan. Saya memilih menjalaninya secara natural, mengalir saja seperti air.

Padahal, saya tahu bahwa tes semacam ini memiliki karakteristik tersendiri. Ada soal yang membutuhkan ketelitian, ada perhitungan yang memerlukan trik, dan ada batasan waktu yang membuat strategi pengerjaan menjadi penting. Belum lagi durasinya yang cukup panjang. Membayangkan harus berhadapan dengan soal-soal sejenis tes potensi akademik selama hampir empat jam saja sudah membuat saya merasa mual.

Saya akhirnya mencoba menenangkan pikiran dan menghadapinya sebisa mungkin. Namun, setelah tes selesai, kesan yang tertinggal tidak terlalu menyenangkan, kalau tidak mau dibilang mengecewakan.

Saya merasa hasilnya kemungkinan tidak sesuai harapan. Saya tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti, tetapi ada perasaan bahwa saya seharusnya bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Di sinilah saya mulai mempertanyakan sikap saya sendiri. Apakah saya terlalu percaya diri? Apakah saya meremehkan tes ini? Atau saya hanya tidak cukup serius mempersiapkan sesuatu yang sebenarnya penting bagi saya? Saya tidak bisa memastikan mana yang paling tepat. Bisa saja ada banyak faktor yang memengaruhi performa saya saat mengerjakan tes. Namun, saya tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa saya memang tidak memberikan persiapan yang sepadan dengan pentingnya kesempatan tersebut.

Mungkin inilah salah satu bentuk kesalahan yang tidak selalu kita sadari: merasa bahwa kita bisa menghadapi sesuatu hanya dengan mengandalkan kemampuan yang sudah dimiliki, tanpa menyediakan cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Padahal, memiliki kemampuan dan mempersiapkan diri adalah dua hal yang berbeda. Saya tidak tahu apakah hasil tes ini nantinya benar-benar akan menutup peluang saya untuk melanjutkan studi. Untuk sekarang, hasil akhirnya pun belum saya ketahui. Jadi, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa semuanya sudah gagal (masih ngarep).

Tetapi, terlepas dari apa pun hasilnya nanti, ada satu hal yang sudah cukup jelas: saya bisa saja memiliki tujuan yang besar, tetapi tujuan tersebut harus diikuti dengan tahapan persiapan yang diperlukan untuk mencapainya.

Dan itu adalah sesuatu yang perlu saya evaluasi.

Looking back

Jika melihat kembali paruh kedua September, sebenarnya ada beberapa hal yang layak disyukuri.

Saya lulus sertifikasi dosen. Saya kembali ke lapangan dan berkesempatan terlibat dalam pekerjaan geofisika. Saya ikut mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan edukasi publik. Saya juga masih memiliki kesempatan untuk mengevaluasi cara mengajar dan memperbaiki diri. Di sisi lain, ada pekerjaan administratif yang menguras pikiran, rasa bersalah karena harus meninggalkan keluarga, kekecewaan terhadap hasil belajar mahasiswa, dan sebuah tes yang membuat saya mempertanyakan cara saya mempersiapkan diri.

Semuanya hadir dalam rentang waktu yang berdekatan. Tidak ada pemisah yang jelas antara hari baik dan hari buruk. Kadang-kadang, kabar baik datang ketika ada masalah lain yang belum selesai. Kadang-kadang, pekerjaan yang terasa melelahkan justru menghasilkan pengalaman yang menyenangkan. Memang seperti itulah dinamika kehidupan. Tidak selalu ada alur cerita yang rapi, apalagi kesimpulan yang bisa langsung ditemukan pada akhir setiap kejadian.

Untuk sekarang, saya ingin membawa beberapa hal dari September ini.

Pertama, tetap bersyukur atas kesempatan yang datang, tetapi jangan sampai rasa syukur membuat saya berhenti mencari kesempatan berikutnya.

Kedua, belajar mengelola pekerjaan dengan lebih baik, termasuk berkomunikasi dengan orang lain dan tidak selalu mencoba menyelesaikan semuanya dengan cara sendiri.

Ketiga, lebih jujur terhadap diri sendiri ketika mengevaluasi sesuatu. Jika mahasiswa belum memahami materi, ada ruang untuk memperbaiki pembelajaran. Jika proses administrasi menemui kendala, ada langkah yang bisa diusahakan. Jika saya merasa tidak puas dengan performa sendiri, mungkin yang perlu diperbaiki bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi juga proses yang mengantarkan saya ke sana.

Dan terakhir, belajar memberikan perhatian yang lebih layak kepada hal-hal yang memang penting bagi saya. Sebab, keinginan untuk melanjutkan studi, mengembangkan kemampuan sebagai geofisikawan, menjalankan tanggung jawab sebagai dosen, dan tetap hadir untuk keluarga tidak akan berjalan dengan sendirinya. Semuanya membutuhkan waktu, perhatian, dan usaha yang nyata.

September mungkin tidak memberikan semua jawaban yang saya inginkan. Bahkan, beberapa pertanyaan justru menjadi semakin jelas setelah melewati bulan ini.

But that's okay, I guess.

At least, there is something to learn, something to improve, and something to look forward to.

Let's see what October brings.

Komentar

Postingan Populer