Reflections at the End of August

Pontianak, 31 Agustus 2026.
Akhirnya, hari terakhir di bulan Agustus telah menjelang.
Seperti yang sudah menjadi semacam rutinitas beberapa minggu terakhir, saya ingin melihat kembali apa saja yang terjadi dan saya alami dalam sekitar sepuluh hari terakhir. Tidak terlalu banyak, sebenarnya. Tetapi ternyata beberapa hal yang terjadi dalam rentang waktu yang cukup singkat ini membuat saya memikirkan banyak hal.
Kalau diurutkan secara kronologis, semuanya bermula pada Sabtu, 22 Agustus.
Hari itu saya dan tim penelitian hibah Dana DIPA UNTAN 2026 mulai melakukan pengambilan data GPR di Desa Limbung, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Tim kami terdiri dari tiga orang dosen dan lima orang mahasiswa. Pengambilan data ini ternyata menjadi salah satu pengalaman paling unik selama saya menjadi dosen sampai saat ini. Alasannya kurang lebih ada dua: kondisi lokasi penelitian dan beberapa kejadian yang secara kebetulan berlangsung bersamaan dengan kegiatan kami.
Ini adalah pertama kalinya saya melakukan penelitian geofisika di lokasi yang sedang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Dampak kebakaran yang belum sepenuhnya tertangani menciptakan suasana yang sulit saya gambarkan dengan kata-kata. Ada semacam eksotisme yang aneh di sana.
Lanskapnya terasa surreal: bisa terlihat indah sekaligus mengerikan, menyedihkan, dan asing. Kalau saya harus mencari perbandingan, mungkin seperti melihat lanskap dalam film post-apocalypse. Sebuah tempat yang kalau tiba-tiba muncul makhluk asing, alien, atau zombie, rasanya tidak akan terlalu mengejutkan. Bedanya, ini bukan film. Ini benar-benar terjadi. Kerusakannya ada di depan mata, dan dampaknya dirasakan langsung oleh orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi.
Ada juga lokasi berupa kubah gambut yang terasa sangat "Kalimantan". Namun kondisi kemarau panjang membuat kawasan tersebut terasa jauh lebih kering dari yang saya bayangkan. Vegetasinya masih hijau dan relatif tidak terlalu terdampak kebakaran, tetapi lanskapnya tetap menunjukkan tekanan dari aktivitas manusia. Di antara kawasan hutan dan gambut, tanaman sawit berjejer dan perlahan mendesak ruang yang tersisa.
Selama tiga hari berada di lapangan, pemandangan yang kami lihat didominasi warna hitam dan keabuan, dipayungi langit abu-abu kekuningan dan diselimuti asap yang menyerupai kabut. Asap tersebut seperti memagari horison pandangan. Benar-benar terasa asing.
Namun di tengah suasana yang asing itu, ada sesuatu yang terasa sangat familiar. Sawah dan kebun yang kami lewati memiliki pola yang mengingatkan saya pada lanskap pertanian di kampung halaman saya di Jawa. Cara manusia mengolah lahan, menanam, membuat jalan, dan membentuk ruang hidup sebenarnya tidak terlalu berbeda. Hanya latarnya yang berbeda. Di sini, latar belakangnya adalah lahan yang terbakar.
Kontras antara sesuatu yang familiar dengan sesuatu yang asing itu membuat saya merasakan kedekatan emosional yang lebih dalam dengan bencana yang sedang terjadi. Saya tidak hanya melihatnya sebagai sebuah fenomena lingkungan yang sedang saya datangi untuk penelitian. Saya berada di sana. Menghirup udaranya. Melihat bekas kebakarannya. Berbicara dengan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Mungkin pengalaman seperti ini yang membuat sebuah data lapangan terasa sedikit berbeda setelah kita pulang.
Ada hal lain yang menarik terjadi bersamaan dengan hari pertama penelitian kami. Pada Sabtu, 22 Agustus itu, Presiden Indonesia dijadwalkan datang ke Kalimantan Barat untuk melihat kondisi karhutla yang sedang terjadi. Kami tidak mengetahui hal tersebut ketika berangkat menuju lokasi. Namun setelah sampai, kami mulai menyadari bahwa suasananya agak berbeda dari biasanya.
Ada rombongan tentara, polisi, dan tenaga lapangan lain yang tampaknya sedang melakukan persiapan. Mereka memadamkan api dan asap, membersihkan semak-semak di pinggir jalan, dan memastikan beberapa area berada dalam kondisi yang lebih siap. Sesekali kendaraan dinas 4x4 milik berbagai instansi terlihat berlalu-lalang.
Tim kami kemudian berbincang dengan salah seorang anggota tentara yang kebetulan mendapat tugas berjaga di sekitar lokasi. Dari percakapan itu kami baru mengetahui bahwa mereka ternyata baru mendapat informasi pada pagi harinya bahwa Presiden akan datang ke Pontianak untuk melihat kondisi karhutla. Mereka pun harus segera menyiapkan segala sesuatunya. Kami juga bertanya apakah rombongan akan meninjau lokasi tempat kami bekerja, karena memang kawasan tersebut termasuk salah satu area yang cukup terdampak. Jawabannya: iya. Kami pun akhirnya memahami mengapa hari itu terasa sedikit berbeda.
Ada sesuatu yang menarik dari situasi tersebut. Ketika sesuatu akan dilihat oleh pimpinan tertinggi, segala sesuatunya tiba-tiba mendapatkan perhatian ekstra. Pekerjaan yang biasanya mungkin berjalan dengan ritme tertentu mendadak menjadi jauh lebih intens.
Kami kemudian memutuskan berpindah lokasi. Di atas kendaraan, tentu saja muncul candaan di antara kami. Bagaimana kalau kami tetap saja berada di sana dan menyampaikan apa yang sebenarnya kami lihat dan rasakan? Tentu saja itu hanya candaan. Ketua tim penelitian kami segera mengingatkan bahwa ada hal-hal yang mungkin lebih baik tidak dilakukan. Dan saya rasa beliau benar.
Sebagai pegawai negara, ada banyak hal yang memang harus dipertimbangkan. Ada batas antara keberanian menyampaikan sesuatu dengan kecerobohan dalam mempertaruhkan pekerjaan sendiri. Mungkin begitulah bagian dari menjadi proper sebagai seorang pegawai negeri: mengetahui kapan harus bicara dan kapan harus cukup mengamati. Ironisnya, pemikiran tentang menjadi pegawai negeri yang proper ini kemudian membawa saya ke urusan lain yang juga sedang saya jalani.
Belakangan ini saya memang sedang sibuk melengkapi berbagai dokumen SKP sebagai bagian dari proses pengajuan kenaikan jabatan akademik ke jenjang Lektor. Secara formal, saya memang belum berada di jenjang tersebut. Status saya saat ini masih Asisten Ahli.
Dalam struktur ideal, seorang dosen pada jenjang ini seharusnya masih mendapatkan lebih banyak pendampingan dari dosen yang lebih senior. Ada proses supervisi, pembimbingan, dan bertahap mengambil tanggung jawab akademik yang lebih besar. Namun realitas di lapangan tidak selalu berjalan seideal itu. Terutama di kampus-kampus yang berada di daerah dan menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Saya cukup sering melihat bagaimana kebutuhan institusi akhirnya membuat orang-orang mengambil tanggung jawab yang sebenarnya secara formal mungkin berada di atas jenjang mereka. Ada teman yang akhirnya harus mengelola laboratorium, bahkan ada yang mendapat amanah struktural yang cukup besar karena memang tidak banyak pilihan yang tersedia.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa kondisi tersebut sepenuhnya baik atau buruk. Mungkin ini adalah semacam kompromi yang muncul karena dua sisi sama-sama membutuhkan. Institusi membutuhkan orang untuk menjalankan pekerjaannya. Di sisi lain, regulasi memiliki persyaratan yang tidak selalu mudah dipenuhi oleh institusi yang kekurangan SDM. Akhirnya muncullah ruang abu-abu antara apa yang seharusnya terjadi secara formal dan apa yang harus dilakukan agar pekerjaan tetap berjalan.
Sebagai dosen muda yang masih cukup banyak berurusan dengan birokrasi, mungkin saya memang terlalu banyak mengkritik keadaan. Apalagi saya sendiri masih membutuhkan sistem tersebut untuk melanjutkan perjalanan saya. Dan di titik ini, "tangan negara" yang saya butuhkan ternyata bukan hanya regulasi dan birokrasi. Saya juga sedang membutuhkan beasiswa.
Saat ini saya sedang mengikuti proses seleksi beasiswa LPDP. Kabar pertama saya peroleh pada 29 Agustus: saya lulus seleksi administrasi dan berhak melanjutkan ke tahap berikutnya. Saya cukup terkejut. Bukan karena saya merasa tidak layak, tetapi karena proses persiapannya benar-benar sangat terburu-buru.
Surat pengantar atau rekomendasi baru saya dapatkan sekitar tujuh hari sebelum pendaftaran ditutup. Esai mengenai deskripsi diri, portofolio, pencapaian, dan rencana ke depan baru benar-benar selesai sehari sebelum penutupan. Saya bahkan tidak sempat melampirkan rekomendasi dari pimpinan langsung maupun tokoh akademisi yang mungkin secara ideal akan membuat aplikasi tersebut menjadi lebih kuat. Dalam prosesnya, saya juga menggunakan ChatGPT untuk membantu saya menyusun dan memeriksa beberapa bagian dokumen. Karena itu, ketika mengetahui bahwa saya lolos administrasi, reaksi pertama saya sebenarnya bukan euforia. Lebih seperti: "Oh, ternyata bisa lolos juga".
Saya sempat bertanya-tanya apakah status saya sebagai ASN ikut berpengaruh. Saya sendiri tidak tahu apakah memang terdapat perbedaan kuota atau mekanisme tertentu antara ASN dan pendaftar umum, jadi saya tidak ingin berspekulasi terlalu jauh. Tetapi status sebagai ASN memang membuat saya kembali memikirkan satu hal yang sudah beberapa kali muncul di kepala saya.
Sebenarnya, kepada siapa seorang ASN harus loyal?
Secara logis, jawabannya tentu kepada negara dan kepentingan publik. Tetapi dalam praktiknya, batas antara negara, pemerintah, institusi, dan orang-orang yang sedang menjalankan kekuasaan kadang tidak selalu terasa jelas. Mungkin ini salah satu konsekuensi menjadi bagian dari sistem. Kita bekerja di dalamnya, mendapatkan manfaat darinya, tetapi pada saat yang sama kita juga bisa melihat berbagai hal yang menurut kita masih perlu diperbaiki.
Di tengah semua pertanyaan itu, ada satu hal yang bagi saya justru semakin sederhana. Saya ingin belajar lebih banyak. Saya ingin meningkatkan kemampuan saya, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga karena saya melihat masih ada jarak yang cukup besar antara lingkungan akademik yang pernah saya alami dulu di tempat asal saya dengan kondisi pendidikan tinggi di tempat saya bekerja sekarang. Saya tidak mengatakan bahwa satu tempat lebih baik daripada tempat yang lain secara mutlak. Namun saya memang merasakan adanya gap. Dan kalau saya punya kesempatan, saya ingin ikut memperkecilnya.
Itulah salah satu alasan mengapa keinginan saya untuk melanjutkan studi tidak semata-mata tentang mendapatkan gelar doktor. Saya ingin membawa pulang sesuatu. Mungkin bukan sesuatu yang besar. Bukan pula sebuah perubahan revolusioner. Mungkin hanya cara berpikir, budaya akademik, kebiasaan bekerja, jejaring, atau standar tertentu yang saya dapatkan selama studi dan kemudian bisa saya bawa kembali ke kampus tempat saya bekerja. Saya ingin melihat apakah hal-hal kecil seperti itu bisa tumbuh di sini. Tentu saja sesuai kemampuan saya.
...
Kalau dipikir-pikir, sepuluh hari terakhir ini ternyata cukup padat juga. Saya mulai dari lapangan, melihat lanskap yang terbakar dan merasakan langsung suasana yang selama ini mungkin hanya saya lihat dari berita. Saya kemudian berhadapan dengan birokrasi dan kembali diingatkan bahwa menjadi bagian dari sebuah institusi berarti harus belajar hidup dengan aturan, kompromi, dan berbagai wilayah abu-abu. Lalu saya mendapatkan kabar bahwa perjalanan untuk melanjutkan studi masih terbuka, setidaknya untuk sementara.
Saya tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Tahapan seleksi masih panjang. Bisa saja saya gagal di tahap berikutnya. Bisa saja saya harus mencoba lagi tahun depan. Tapi untuk sekarang, saya ingin menjalani prosesnya.
Mungkin pada akhirnya, konsistensi memang baru bisa dilihat setelah perjalanan berlangsung lebih panjang. Saya hanya berharap, di tengah semua urusan tentang jabatan, administrasi, penelitian, beasiswa, dan rencana studi, saya tidak melupakan alasan awal saya melakukan semua ini. Saya ingin belajar. Saya ingin menjadi lebih baik. Dan kalau memungkinkan, saya ingin sedikit membantu meningkatkan kualitas manusia di tempat saya berkarya. Agaknya itu saja yang ingin saya bawa dari akhir Agustus ini. Semoga saya kuat menjalaninya.


Komentar
Posting Komentar